juanitasafitri63.wordpress.com

Dengan Tulisan Membuat Hati Kecilmu Berbicara

Meraih Masa Depan Bersama Sentuhan Pena

Dibalik gubuk sempit berlapiskan bilik,di atas ubin yang telanjang tanpa berlapisakan kramik dan marmer mahal,seorang gadis kecil yang tinggal di dalamnya mempunyai sebuah harapan dan cita-cita. Menunjang masa depan bersama segudang buku dan goresan pena bertinta hitam,baginya membaca merupakan tempat menuai cita-cita,terselip harapan dan masa depan yang gemilang. Seuntaikan kata mulai tergores di atas kertas kosong yang putih,mewakilkan sebuah kata hati yang tertuang melalui tulisan. Tak ada harta benda yang berharga selain buku dan sebuah pena,selain sebuah laptop kesayangan yang ia tahu,tak mungkin bisa untuk dibelinya kedua kali. Diluaran sana,berbagai rintangan menghadang tanpa ampunan,menyusuri takdir Tuhan pada jalanan yang berliku dan terjal. Namun sebuah harapan yang kokoh dan lama tertanam dalam hati,membuat semangat meski dikala susah dan sejuta cobaan hidup yang keras dalam dunia ini. Harapannya tak se-sempit tempat huniannya,begitu luas layaknya pengetahuan yang ia miliki,dalam kemiskinan yang merantai hidupnya,namun bocah kecil ini telah mengetahui apa itu dunia? tahu tentang isi dan ceritanya. Membaca  telah membuat dirinya berjelajah ke berbagai masa lalu dan masa depan,tempat-tempat indah dan negara yang memprihatinkan. Krisis ekonomi yang menjerat hidupnya sekarang ini,tak membuatnya putus harapan untuk di kenal banyak orang,layaknya seorang penulis kondang. Dia fikir,dengan menulis semua orang akan mengetahui dirinya,tanpa harus memperkenalkan siapa dirinya di depan public,ataupun bekerja keras menjadi seorang artis yang berakting di belakang layar.

“Telah lama aku menjamah dunia ini,usianyapun sudah cukup tua dan rentan terhadap dampak globalisasi yang kini tengah menggencarnya,mengancam keselamatan orang banyak yang menghuni bumi ini. Telah lama aku melintasi berbagai samudera dan lembah yang ada di dunia ini,ada yang tengah krisis dan memprihatinkan,ada pula yang indah dan membuat mata telanjang terkesima melihatnya. Rupanya ada banyak pembangunan di berbagai Negara yang pernah aku lintasi ini,ada banyak lahan industry yang membuat dunia sakit hebat,hingga alampun perlahan tak bersahabat lagi. Bahkan aku tahu kisah hidup dan cerita beberapa pejuang dunia. Menulis bagaikan sebuah hal yang dapat membuat hidup ini terasa penuh warna dan lebih bermakna,ada sebuah kisah yang bisa dibuat, dan ada pula yang  memang telah terlahir sebelumnya. Sebuah cerita telah membuat hidupku lebih indah,tak banyak orang yang mampu menceritakan setiap kisah hidupnya kedalam sebuah karya tulis,tak banyak orang yang ingin menghabiskan waktunya bersama sebuah pena dan helaian kertas kosong,ataupun sebuah laptop. Menulis adalah tempat dimana aku bersembunyi dari kejenuhan,dari rasa bosan dan kesal,menulis telah membuat semuanya menjadi terawetkan secara natural,sebuah peninggalan berharga yang seringkali banyak orang tak sadari.”

Goresan pena itu telah berhasil menyentuh helaian kertas putih yang kosong,membuat sebuah cerita dan kisah hidup pelik yang telah berhasil menyentuh hati jutaan masyarakat. Ibunya hanya sebagai kuli di rumah-rumah gedongan,mengandalkan nafkah dari cucian baju-baju kotor,menyapu lantai yang berdecit tak sebagus lantai rumahnya,membersihkan ranjang-ranjang mewah dan empuk yang tak sebagus ranjang di rumahnya,kemudian merapikan pakaian mahal yang tak mungkin terbeli olehnya. Dan ayahnya,hanya sebagai buruh pabrik dengan penghasilan yang tak seberapa,meski di guyur hujan dan terbakar terik mentari ketika musim panas,namun upah yang di dapat rupanya belum mampu mengubah nasib pelik bersama keluarganya itu.
Melihat keluarganya yang jauh dari kemewahan,gadis kecil ini terus bejuang demi mengubah nasib menjadi lebih baik,setidaknya dapat membuat kedua orang tuanya bisa tersenyum bahagia,bisa menghilangkan kerutan di kening ayah dan ibunya,yang itu tahu… sesungguhnya dibalik kerutan itu tersimpan beban hidup yang tak mudah di jalani,bisa menyembuhkan tangis air mata bersama senyum lepas oleh keberhasilan yang suatu hari nanti pasti ia dapatkan.

Gadis kecil itu,memang cukup pendiam dan kurang beradaptasi bersama lingkungan disekitarnya. Sebuah hiburan dan pesta remaja tak membuatnya tergiur untuk bergabung bersama teman-temannya,bagi gadis kecil ini,tempat perdu dan jauh dari keramain lebih terasa nyaman dan mengasyikan untuk menulis,berimajinasi tinggi tentang apa yang ingin ia tulis bersama kata hati dan pikirannya. Uang bukan untuk di hambur-hamburkan,sebatas berlibur yang hanya terasa menyenangan sesaat.

Tak banyak inginnya,selain berharap dapat membanggakan kedua orang tua dengan kesuksesan yang ingin ia raih sesuai kata hatinya, ingin menjadi seorang penulis mahir dan dapat di kenal banyak orang. Tuhan tak pernah ingkar dengan janjinya,Tuhan selalu mendengar setiap permintaan umatnya yang selalu sujud bersimpuh,dengan mengiba dan menangis,berharap suatu keajaiban yang indah dapat Tuhan turunkan secepatnya.
Meski di balik gubuk sempit,meski jauh dari kemewahan,jauh dari dunia glamour anak remaja,namun gadis kecil ini tak pernah patah semangat demi meraih sebuah mimpinya menjadi penulis di masa depan,dapat lebih banyak menceritakan kisah hidupnya,orang-orang di sekelilingnya,berbagi ilmu yang telah diketahuinya dari membaca,dan ia yakin… hidup yang dikatakan mewah dan glamour bukan karena sebuah materi,melainkan dari keyakinan diri sendiri,yang dapat meraih sebuah cita-cita dan asa. Menulis telah membuatnya berkhayal begitu tinggi,namun karena menulis… segela rasa duka bisa dengan mudah dapat terobati,dengan menulis… baginya sebuah harapan dapat di raih di masa dini,sesuai cerita hidupnya yang selalu ia tuangkan di atas kertas.

Advertisements
4 Comments »

Peradilan yang hilang…

Apa yang harus di ibakan dari para pejabat tinggi Negara ini? Yang selalu berpakaian rapi dengan mengenakan jas,berdasi,dan memakai sepatu mahal  yang setiap waktu di semir. Diringi dengan kendaraan mewah yang menghkilap,dengan lambang garuda yang terpampang di plat nombernya,dan bertuliskan RI. Kebanggaan mereka yang berlandaskan title tinggi seringkali melintasi jalanan negeri ini,termasuk jalanan ibu kota yang tengah terpuruk krisis moral dan ekonomi. Kemewahan yang dipamerkan hanya bisa kami tonton,memperhatikan satu persatu kendaraan mewah sang pejabat yang melintas secara berbondong-bondong. Rakyat kecil hanya bisa berandai kala itu, “mungkin kemewahan dan kekayaan yang mereka dapatkan,berdampak seperti ini pada kami.” Mampukah mata mereka yang tengah duduk santai di dalam mobil mewah itu, melirik ke sekeliling jalanan negeri? Kemiskinan yang merejalela, kini tak bisa dihitung jari lagi. Coba fikir… ada berapa banyak pedagang asongan yang selalu mencari penghasilan di tengah-tengah stopan lampu merah? Ada berapa banyak orang yang mencari nafkah dengan memikul barang dagangannya yang tentu berat?
Percuma saja dengan pembangunan gedung-gedung yang menjulang tinggi setinggi langit,tetapi di pinggiran negeri… tenaga kerja kami hanya dipakai sebagai kuli dan buruh petani. Pekerjaan sebagai penjual kaki limapun masih meraja rela di negeri ini,untuk apa harus di perbanyak pembangunan sebagai lahan industry?

Kekayaan negeri ini… rupanya tak bisa memakmurkan kami,hanya orang-orang yang bertitel tinggi yang dapat menikmati,penghasilan selangitpun masih belum cukup bagi mereka,apalagi kami yang hanya bekerja sebagai kuli dan buruh petani,yang bekerja sebagai penjual asongan,dengan penghasilan harian yang tak seberapa. Sebungkus nasi yang dibeli untuk dimakan bersama-samapun masih untung,dapat tidur nyenyak meski di atas ubin yang beralaskan Koran atau kardus bekaspun masih terasa nyaman. Tak ada tempat tidur nyaman dan lantai yang berlapiskan bata marmer mahal,tak ada banyak alat elektronik mewah dan mahal yang kami punya,apalagi sebuah kendaraan bermerk dan rumah mewah yang bertingkat.
Para tikus berdasi semakin bermunculun,tak pernah tumbang meski dimakan jaman,gelimbangan harta dan uang rakyat yang harusnya menjadi milik rakyat tak mampu,dilalap habis,dijadikan dana sogokkan oleh para pejabat yang tak bertanggung jawab.

Pikulan berat sang kakek yang membawa lesung dari batu,kemudian seorang nenek yang jalan tergopoh-gopoh sambil menggendong kayu bakar,anak-anak negeri yang seharusnya menjadi penerus bangsa,malah mengakhiri cita-cita dan harapannya untuk menawarkan diri sebagai penerima jasa panggul di pasar swalayan. Pendidikan bukan lagi sebuah prioritas bagi rakyat pinggiran,lebih baik menjadi seorang pengamen jalanan yang rela menjemur diri di jalanan perkotaan,alat music sederhana dan beberapa angkutan perkotaan,menjadi tempat mencari nafkah para bocah kecil yang terpaksa putus harapan dalam dunia pendidikkan.
Sedangkan para pejabat tinggi Negara, yang tengah berhasil mengais gelimbangan harta para rakyat,malah tenggelam dalam kesenangan dan memandang penderitaan negeri dengan sebelah mata. Demi sesuap nasipun rakyat kecil perlu mengiba sambil menitihkan air mata,tubuh yang telah bau usang di makan terik matahari, hanya terbayar dengan upah yang tak seperapa. Ceceran gubuk kecil dan tempat kumuh menjadi sasaran empuk para pejabat untuk mencaci maki,tapi kami tak pernah meminta semua ini,hidup dalam gubuk derita yang sempit,penuh dengan seribu masalah dan tantangan hidup yang kejam,tak ada sedikitpun kemewahan di dalamnya,sebuah hunian yang dijadikan sebagai tempat berteduh dari panas matahari dan derasnya air hujan,sebuah hunian untuk tempat berpulangnya sang pencari nafkah dengan membawa sedikit penghasilan yang belum mampu merubah keadaan. Tak akan ada  yang mau menjadi rakyat pinggiran,hidup dalam tempat tinggal yang kumuh ,dalam lorong-lorong sempit dan pengap,tempat yang terasingkan dari perkotaan,yang tertinggal dalam segala teknologi modern.

Didalam lorong-lorong yang sempit,tempat yang pengap dan kumuh,ibu rumah tangga tengah mencari nafkah dengan menjual air-air jernih,yang tak mudah untuk mereka temukan di tempat yang kotor,sedangkan ibu-ibu para pejabat tinggi Negara tengah pamer kekayaan di sebuah restaurant mahal,memamerkan gaun-gaun yang mereka beli dari berbagai mancanegara,menikmati santapan yang lezat dan harganya yang selangit. Peradilan telah lama tenggelam,yang kaya makin kaya,dan yang miskin makin tertindas,rakyat kecil tak diberi kesempatan untuk merasakan kenikmatan dan rasa bahagia. Langit yang biru beserta awan putih,sejuknya udara dan kekayaan alam yang melimpah ruah di Ibu Pertiwi ini,tak pernah merasa indah bagi kami rakyat kecil,semuanya nampak kelam dengan keadaan ekonomi yang amat minim,gelap gulita tanpa sebuah penerangan pendidikkan. Lantas kami banyak tertinggal dalam dunia pendidikkan dan moderenisasi,mencari nafkah hanya demi menghidupi diri,tanpa memikirkan bagaimana bisa bersekolah dan mendapatkan sejuta gudang ilmu di dalamnya. Seteguk air dan sesuap nasi telah merasa cukup bagi kami,meski sesungguhnya itu tak membuat perut kami kenyang,tetap saja membuat tubuh kami ini kurus kering dan rentan terhadap penyakit,membuat masalah baru yang harusnya bisa ditangani oleh pemerintah,menyodorkan kesehatan dan tempat yang layak bagi kami. Namun tetapi… semuanya bisa terpenuhi jika di bayar dengan uang,lingkungan yang rusak,pola hidup sehat yang tak terjaga,membuat kami banyak menderita dan mati kelaparan,tak ada sodoran pemerintah yang iba terhadap rakyat kecil layaknya kami,membiarkan mati tanpa bantuan kesehatan.

Tak pernah paham ketika meratapi bumi pertiwi yang luas ini,semuanya bertempat tinggal dalam satu Negara yang sama,namun mempunyai kubu yang berbeda-beda,yang rakyat kecil semakin di jauhi,sedengkan para pejabat dan orang terpandang semakin ditinggikan. Tak ada yang mengayomi kami,mereka mempunyai kubu kekayaan masing-masing,sedangkan harta yang berlimpah,seharusnya menjadi milik kami sebagai peradilan ekonomi. Tatapan iba mereka telah sirna, dengan triliyunan uang milik Negara yang seharusnya dijadikan kesejahteraan rakyat ibu pertiwi. Kemudian kami… yang duduk di emperan pertokoan, sambil menyodorkan sebelah tangan untuk meminta-minta koin recehan,mereka abaikan dan berpura-pura menutup mata,seakan-akan kemiskinan di negeri ini masih bisa terhitung jari saja.
Lihatlah di kota-kota besar,gedung-gedung menjulang tinggi,dijadikan lahan industry dan ada juga sebagai tempat mengais Ilmu,tapi mengapa rakyat pengangguran dan bocah kecil yang putus pendidikkan di biarkan begitu saja,mengapa hanya orang yang berdompet tebal dan bergelimbangan harta yang bisa mengenyam pendidikkan? Untuk apa didirikan banyak rumah sakit dan apartemen mewah? Jikalau kemiskinan masih merajarela di negeri ini,dan orang sakit dari kalangan tak mampu masih di abaikan hingg mati. Di balik lorong-lorong sempit itu,terdapat sekian banyak rakyat kecil yang sakit parah,kemudian mengiba pada pihak rumah sakit untuk meminta pertolongan,agar rasa sakitnya bisa terobati dengan sebuah tablet obat,kemudian meminta pada sang dokter agar diketahui apa penyakitnya,namun percuma… terlihat dari pakaiannya yang kummel dan terbilang rakyat tak mampu,kartu JAMKESMASpun rupanya hanya janji palsu para pemerintah. Sebuah benda yang menjadi saksi bisu para pemerintah,rupanya malah di ingkari. Rupanya memang banyak pemerintah negeri ini yang berdusta,semua janjinya banyak yang tak terbukti,hanya sebuah ucapan yang tak bisa memperbaiki keadaan rakyat kecil layaknya kami.

Mengapa tiba-tiba kehidupan di bumi pertiwi ini begitu kejam? Begitu mengerikan dan amat tega? Anak-anak para pejabat negeri, bersekolah di sekolah yang elit dan mahal,diberikan segala fasilitas elektronik dan kendaraan mewah,sekolah dengan lantai yang berdecit dan licin,tembok yang kokoh dan bersih,dilengkapi AC dan fasilitas yang menunjang,kemudian tempat duduk yang nyaman,dengan pengawi ruangan di dalamnya. Setiap hari merasakan kenikmatan di dalam mobil mewah dan membeli barang-barang glamour di sebuah mall besar ibu kota,tak jarang orang tuanya yang pejabat ini mengajak putra putrinya berlibur ke mancanegara. Tapi tak tahu, dari mana uang yang setiap waktunya di genggam ini,dibelikan pakaian mahal dna makanan yang lezat. Sang ibu pejabat tubuhnya di penuhi berbagai aksesoris yang berlapiskan emas 24 karat,tas mahal yang dibelinyapun secara import. Kemudian sang ibu dan anak pergi ke sebuah salon kecantikan yang mahal,menata penampilannya agar terlihat selalu nampak cantik dan segar,bibir merah yang merona,kulit putih bersih nan cantik,rambut yang tak pernah kusut dan selalu terawat,turun naik mobil mewah dan merasakan kenikmatan hidup setiap saatnya. Dengan mudah mereka bisa membeli apa yang mereka inginkan,tak perlu kerja keras hingga bercucuran keringat dan berjemur di bawah terik matahari,atau terkadang sampai di guyur hujan deras. Cukup dengan satu kali minta,apapun yang mereka inginkan bisa secepat kilat ada di depan mata.

Tayangan di berbagai chanel televise, banyak yang menyiarkan tentang hidup yang glamour layaknya bangsa ini telah maju dan sukses,tapi di balik jendela rumah mewah kami menangis,menyaksikan orang-orang terpandang yang memamerkan kemewahan,sedangkan kami yang tengah menonton di balik jendela rumah mewah,masih kesusahan dalam hal ekonomi,masih hidup susah di balik gubuk derita yang sempit. Bagaimanapun peliknya hidup ini,dalam kesulitan dan dunia yang keras,kami masih terus untuk bertahan hidup,memajukan peradilan rakyat pada para tikus berdasi yang tak bertanggung jawab,meninggikan keadilan dan kesejahteraan yang berhak kami nikmati. Meski kami tak hidup semewah para pejabat itu,namun kami mempunyai sebuah harapan dan cita-cita,kelak tak ada lagi yang merasa tertindas,kelak tak ada lagi yang merasa di pandang sebelah mata,kelak tak ada lagi sebuah kubu yang memisahkan kaum miskin dan kaya,meski pendidikkan kami tak setinggi mereka,tak mempunyai title profesor,tak pernah jua mengenyam pendidikkan di luar negeri,namun harapan dan cita-cita kami lebih mulia dibandingkan mereka yang senang dengan hura-hura. Kelak,bangsa ini akan kami bangun bersama peradilan yang merata,bersama sebuah kesejahteraan dan rasa gotong royong,rasa saling mengasihi satu sama lain,rasa tolong menolong dan memberi. Akan kami bangun dengan kebersamaan,tanpa ada air mata derita dan jeritan tangis rakyat tak mampu. Tak akan ada lagi yang hidup dalam lorong-lorong sempit dan gelap,tak ada lagi bocah-bocah kecil yang berkeliaran ketika jam sekolah,yang harus mencari nafkah hingga tak mengenyam sedikitpun pendidikkan. Bersama penderitaan yang pernah kami rasakan,semoga tumbuh tunas baru yang bisa menjadi harapan bangsa nantinya,yang merasakan bagaimana hidup yang sulit dan kejam itu seperti apa,yang pernah tumbuh dalam bumi pertiwi, yang penuh dengan korupsi,semoga kelak… tak ada lagi tikus berdasi yang bermunculan,keadilan bisa di junjung tinggi,dan kesejahteraan bumi Ibu Pertiwi kembali makmur,dan menuai senyum kebahagiaan…

 

Sapaan Ironi

Dibalik lorong-lorong sempit,di apit gedung-gedung menjulang tinggi
Jeritan tangis rakyat Ibu Pertiwi, di bawah kesenangan para tikus berdasi
Duduk santai dibalik kendaraan mewah
Pecandu harta Negara demi kesenangan semata

Apa yang harus di ibakan dari para pejabat tinggi Negara?
Berpakaian rapi,memakai jas,dan berdasi…
Beralaskan sepatu kulit mahal

Keadilan telah lama diabaikan
Rakyat Ibu Pertiwi telah lama  megadu nasib sebagai kuli,buruh petani,dan budak para pejabat bertitel tinggi
Pak,Bu… Nusantara telah mati ekonomi
Dengan kesenangan yang kalian dapatkan
Namun kami masih bisa mendapatkan sebungkus nasi yang dimakan beramai-ramai
Kami masih bisa tidur meski di atas ubin beralaskan koran dan kardus bekas
Meski dalam kemiskinan
Kami masih bisa melihat Bapak dan Ibu melintas di jalanan Ibu Kota
Berpura-pura menutup mata
Tentang tenggelamnya Ibu Pertiwi karena air mata derita

Leave a comment »

Tangisan Anak Negeri

Ketika bumi pertiwi ini telah hancur  dengan gugurnya para pahlawan sejati yang telah mengobarkan api semangat juang,tumbuhlah tunas baru sebagai penjajah di masa depan. Kini… lihatlah ibu pertiwi yang dulunya di jaga bersama air mata,keringat dan darah pengorbanan,kembali runtuh oleh penjajahan globalisasi,rupanya tak seasri dulu lagi negeri ini. Indah dan kaya,subur dan makmur… kini hanya tinggal nama dan kenangan,kobaran api semangat kini tinggal kepulan asap yang menutupi semesta tanah air,seakan-akan kabut yang membutakan mata seluruh rakyat di tanah air tercinta ini. Dulu beribu-ribu pulau,suku,budaya,bahasa dan bangsanya dihormati seluruh mancanegara yang menginjakkan kaki di negeri ini,seluruh isi yang berada dalam negeri ini di agungkan para turis mancanegara,dengan rasa kagum dan acungan jempol untuk negeri ini. Namun kini? Hanya serpihan nama baik yang jumlahnya tak sebanding dengan cemoohan puluhan ribu orang yang memandang negeri kami sebelah mata.

Memperjuangkan negeri ini tak semudah membalikkan telapak tangan,tubuh yang bersimbah darah,kemudian seribu senapan yang siap untuk menghadang di depan mata,bersama guyuran hujan hingga titik darah penghabisan tanah air ini akhirnya bisa mengecup puncak keemasannya yang gemilang. Namun kami yang hidup di jaman ini,hanya mengenal para pejuang dan pahlawan lewat sebuah buku sejarah,hanya dibalik buku bercerita perjuangan negeri Indonesia kami semua dapat mengenal para pejuang,mengenang jasa dan pengabdian besarnya mereka  untuk negeri ini. Negeri ini kembali hancur setelah merasakan kedamaian yang hanya sementara waktu saja,penjajahan globalisasi oleh sekelompok orang-orang asing yang masih menyimpan dendam dan rasa serakah pada negeri kami ini masih belum musnah rupanya,seiring perkembangan jaman… penjajahan tak lagi dengan sebuah senjata tajam dan senapan liar,ataupun sebuah meriam dan granat. Secara terhormat negeri kami di buat hancur dengan segala rakitan manusia yang menghasut pada hal negative,bangsa kami yang masih minim pengetahuan disebabkan karena teknologi buatan manusia yang dibuat negera asing ,semata-mata menjajah kami secara perlahan.

Lihat negeri kami…
Pribumi hanya sebagai kacung dan rakyat rendahan yang dipandang sebelah mata.
Sedangkan pendatang? Mereka hidup glamour dengan bergelimbangan harta dan barang-barang mewah,rakyat pribumi yang kaya hanya sebagai hiasan  para pendatang yang bisa hebat di negeri kami,dan daya fikir kami yang masih jauh tertinggal dengan bangsa lain,menjadi lebih mudah dipengaruhi bangsa lain dengan di iming-imingi harta adalah segalanya dibandingkan negeri tercinta yang telah di perjuangkan selama berabad-abad tahun,rela menjual emas,berlian,harta berharga yang bumi pertiwi ini miliki pada Negara asing. Fakir miskin yang dominannya rakyat pribumi meraja rela di negeri ini,di setiap sudut kota… mereka yang seringkali mengulurkan tangannya demi mengemis-ngemis recehan untuk mempertahankan hidup. Harga diri dan moral bangsa kami telah di injak-injak dengan pendatang asing,semakin sadis penjajah menguasai kekayaan alam yang negeri ini miliki,mereka hanya bertolak pinggang di atas bukit,atau duduk santai menjadi mandor kami (para pribumi),yang tengah memetik kekayaan alam untuk mereka angkut ke negerinya.
Lihat pak,bu… para pejabat tinggi Negara yang tega menjual kekayaan alam dinegerinya sendiri,kami hidup susah menjadi kacung para pendatang asing yang merauk kekayaan alam kami.
Dan lihat… segala teknologi yang kalian kenalkan pada kami malah membuat kami menjadi buta pengetahuan tentang negeri ini,tak sedikit orang yang dibuat malas dengan alat-alat canggih dengan tangan-tangan manusia yang kreatife. Tapi teknologi yang semakin berkembang malah membuat bangsa ini menjadi hancur,membuat malas dan kematian semakin meraja rela dimana-mana.

Tak miriskah kalian pada negeri ini? Para pejuang telah merawatnya hingga mereka rela mati untuk melindungi tanah air tercinta ini,namun mengapa dengan mudahnya beberapa pulau,kebudayaaan dan hasil alam ibu pertiwi ini dirampas oleh warga asing?
Seharusnya tak ada yang berani melecehkan negeri ini,seharusnya tak ada yang berani menyentuh negri ini untuk mengakui kekayaan alamnya milik Negara lain. Dan seharusnya,kita tak tergiur dengan berbagai alat teknologi  yang canggih,yang Negara asing jual pada Negara kami,bermaksud menjajah secara terhormat dalam bidang teknologi dan transfortasi.

Melihat beberapa tanah yang kita duduki ini seringkali terpampang plang yang menyatakan ,jika tanah ini telah didudukki oleh warga Negara asing. Apa kalian sadar? Kita hanya sebagai kuli di negeri sendiri! Beberapa warga asing dengan bermata sipit dan kulit kuning pucat bukankah telah mendominan di negeri ini? Mereka sukses dan behasil membangun rumah-rumah mewah beserta tanah yang bertebaran dimana-mana,ladang dan sawah kami mereka beli sebagai lahan industry,kemudian rakyat pinggiran terasingkan,hidup dalam gubuk tua dan sudah rapuh,beralaskan kardus bekas atau sehelai Koran. Ini sungguh ironis,bendera-bendera negeri asing telah menancap di berbagai pulau dalam negeri ini,apakah kalian rela harus membagi bumi pertiwi ini yang telah di perjuangan hingga titik darah penghabisan para pahlawan negeri? Seharusnya hanya ada satu bendera yang melambangkan symbol negeri ini,hanya sang bendera merah putih yang mampu menancap dan melambai tinggi di puncak langit negeri ini,harusnya kami tak rela dan berontak dengan lambaian bendera lain, yang berani-beraninya menancap di tanah puluhan ribu pribumi yang telah tumbang mempertahankan negeri ini. Bukan darah dan pengorbanan mereka yang membekas di negeri ini,melainkan penduduk Indonesia yang telah bertempur mempertahankannya.

Jeritan jutaan penduduk Indonesia tak pernah henti mengeluh,dimana Indonesia yang subur dan makmur? Dimana Indonesia yang sejatinya hanya dihuni oleh penduduk asli negeri ini? Mengapa kududukan kami harus rendah di bandingkan seorang pendatang dari bangsa lain? Seharusnya tak ada seorangpun pribumi yang mati kelaparan,yang mengemis pada para pendatang. Kedudukan kami yang harusnya lebih tinggi dibandingkan orang asing yang datang ke negeri ini.

Tak seharusnya warga pribumi dibuang dan dijadikan sebagai sampah masyarakat dalam Negara sendiri,kami adalah anak cucu seorang pejuang dan pahlawan yang telah mempertahankan Indonesia,yang telah menjadikan negeri Indonesia ini hadir dan diakui dunia. Jadikan kembali Indonesia yang makmur dan tentram,dengan hadirnya seorang pendatang yang mengakui diri,jika dirinya hanya seorang warga asing yang ikut duduk dalam negeri ini,bukan seorang pencongkak yang datang untuk merusak dan merauk kekayaan alam negeri ini. Bukan seharusnya kami di bentak dan diperintah,diperlakukan sebagai tukang dan seorang kuli. Kembalikan keadilan kami sebagai penduduk pribumi,bahwa kekayaan yang mereka miliki karena berkat leluhur kami,yang seharusnya di wariskan pada kami,sebagai anak cucunya.

Layaknya dahulu,kobarkan lagi semangat juang dan lambain sang merah putih hingga di ujung tiang yang menjulang tinggi ke angkasa,perlihatkan pada negri yang tak henti menjajah kami,jika Indonesia tetap pada kejayaannya,selalu berhasil mempertahankan negerinya meski berkali-kali periode kami di jajah.

Leave a comment »

Untuk Ayah…

Pengap,aku tahu udara hari ini begitu menyesakkan dada,dengan cuaca yang amat extreme,sang mentari tengah berada di atas kepala. Panas teriknya sang mentari tak menjadi alasan seorang ayah ketika harus mencari nafkah, demi menghidupi anak dan isterinya yang tengah menunggu di rumah. Demi sesuap nasi,pernahkah kamu bayangkan bagaimana seorang ayah kerja keras,banting tulang tak mengenal panasnya matahari yang menyengat tubuh,kemudian juga guyuran air hujan yang membasahi tubuhnya sendiri.  Dalam lelahnya,ayah masih sempat membuat guyonan dan kalimat-kalimat jenaka yang membuat kami tertawa,karena dengan tawa riang keluarganyalah sedikitnya bisa mengobati rasa lelah beserta beban hidup yang ayah pikul. Aku tengah berbicara dalam do’a pada Tuhan,biarkan seseorang yang aku panggil ayah ini selalu Tuhan jaga,selalu Tuhan lindungi dimanapun pria paruh baya ini berada.

Tak ada kata lelah ataupun ingin bersantai sejenak,dalam satu hari yang penuh,terkadang ayah harus dihadapkan dalam dua cuaca sekaligus,ketika pagi hingga siang ayah harus merasakan terik mentari membakar tubuh rentannya itu,dan sore hari dimusim hujan seperti sekarang ini… ayah kembali pasrah harus diguyur hujan yang amat deras. Apakah kami sebagai anaknya pernah tahu dan mengerti apa itu hidup yang pelik? Tidak! Kami hanya duduk santai di atas kursi,memanjakan diri bersama sebuah tontonan televise yang kami suka,menikmati santap pagi,siang dan malam yang sudah tersedia di atas meja makan,dan menuntut ayah agar memberikan apa yang kita inginkan dengan mudah.

Pernahkah kamu saksikan tatapan ayah yang dalam ketika kamu berbincang dengannya? Apakah tatapanmu itu mampu menembus hati ayah?  Yang rupanya begitu dipenuhi berbagai masalah hidup yang amat memilukan. Terkadang,kita tak pernah peduli ketika ayah mencoba mengajak kita untuk berbincang soal kehidupan,yang akan menjemput kita kelak di masa depan.
Ketika kita meminta sesuatu pada ayah,tak pernah kita berfikir panjang ketika berat hati ayah harus mengucapkan kata “iya” , untuk mengabulkan keinginan kita hanya demi membuat kita senang.

Mungkin terkadang kita pernah membentak ayah,membuat perasaannya seketika meleleh,dan tatapan itu seketika menjadi bisu,layaknya mulut ayah yang tertutup dengan rapat. Meski sebuah perasaan tak pernah bisa di lihat dengan kedua bola mata,namun tetapi ucapan itu pastinya membuat hati ayah menjadi hancur.

Ketika setibanya ayah dirumah,terkadang beban hidup karena persaingan kerja membuat ayah mengeluh,namun ayah masih kuat untuk menahan tangisnya yang terbendung dikelopak mata,hanya tatapan mata yang merah dan dahinya yang sudah mulai mengkerut menatap kami, anak-anaknya. Dimana waktu ayah untuk bersantai seperti kami? Terik mentari dan guyuran air hujan sudah menjadi teman setia ayah ketika beliau memulai pekerjaannya,hingga akhirnya selesai bekerja.

Kerja banting tulang,hingga tubuh bermandikan keringat hanya karena mengingat anak dan isteri yang menunggu di rumah,menanti hingga ayah pulang membawa sebungkus nasi dan lauk pauk seadanya yang dimakan untuk ramai-ramai. Peliknya hidup,tapi tak pernah menyudahi tawa ayah selama ini,dengan melihat keluarganya yang sehat dan tetap ceria,disitulah ayah dapat tersenyum. Meski dalam sakit,ayah masih tetap kokoh untuk berdiri,mencari sumber penghasilan hanya demi sesuap nasi,dengan tubuh rentannya itu ayah masih bisa melawan teriknya sinar matahari dan guyuran air hujan.

Ayah…
Bukan maksudku tak berani mendekapmu,bukan maksudku tak ingin tertawa bersama denganmu,namun dalam kesulitanmu mana mungkin aku bisa tersenyum,mana mungkin aku tega untuk tertawa setelah aku tahu begitu beratnya hidup yang kau jalani ini. Aku malu,belum bisa memberikan kebahagiaan untukmu,aku malu… masih duduk santai ketika melihatmu pulang ke rumah dengan kelelahan,dengan tubuh yang bersimbah keringat dan debu. Aku malu… masih menghabiskan waktu di kamar seharian,sedangkan kau tengah bergelut bersama terik mentari yang membakar tubuhmu.
Di luar,langit masih gelap… namun kau telah sigap untuk bergegas pergi mencari nafkah bagi kami,meski kau yang lebih tahu bagaimana keras dan kejamnya hidup ini,meski hanya kau yang merasakan begitu sulitya mencari nafkah hanya demi seonggok nasi agar bertahan hidup,namun apa yang kau bagikan untuk kami? Kau rela berbagi ketika merasakan kebahagiaan,kau rela berbagi sesuap nasi bersama kami,kau rela berbagi untuk memberikan apa yang kami inginkan.
Ingin aku bersimpuh di hadapanmu,bila perlu ku bersujud menciumi kedua kakimu,namun apa aku sanggup menahan tangisku nantinya? Tangis ini tak akan reda satu hari ayah,terlalu banyak pengorbananmu untuk kami,segala perjuangan yang kamu lakukan untuk kami tak pernah terhitung,tak pernah terbayarkan oleh materi.

Yang aku takutkan,ketika menatap kedua bola matamu terlalu dalam,kemudian menimbulkan tangis yang tiba-tiba berjatuhan,dan tak bisa ku jelaskan apa alasannya.

Untuk Ayah…
Sesungguhnya dalam do’aku,tak pernah hentinya aku membicarakanmu bersama Tuhan,kau sosok laki-laki idola dalam hidupku,selalu ku do’akan kau pada Tuhan,agar Tuhan selalu menjagamu,melindungimu,dimanapun kau berada. Sejauh mana kau pergi nantinya,namun namamu akan selalu hidup dalam hati sanubari ini Ayah…

Leave a comment »

Bukan Salahku Karena Meragu

Hening… perbincangan kami berdua kembali terhenti pada putaran waktu yang seharusnya menimbulkan tawa. Pantulan sinar mentari masih perlahan muncul di sebelah timur,udara sejuk dan angin yang berhembus sepoi-sepoi,bunga-bunga masih asik bermekaran menyapa kedekatan kami berdua yang tengah terduduk di atas kursi taman. Apa yang menjadi saksi bisu atas segalanya? Di antara kami,hanya benda-benda mati yang memperhatikan antara sebuah perdebatan kecil dan bulir-bulir air mata. Kamu harus tahu,tak mudah aku menerima kehadiranmu yang baru ku kenal,ku harapkan kamu menjadi hal yang baru,yang bisa membuat hatiku ini kembali menyatu dan utuh,setelah sekian laki-laki di masa laluku yang meninggalkan luka berserta air mata dalam hati ini.

Mana mungkin jika kini aku harus menikmati sandaran kepalamu di bahuku,ini sudah tak senyaman dulu! Kedekatan ini malah membuatku semakin hancur,aku bukanlah wanita yang bodoh,yang bisa tertipu hanya dengan sorot matamu yang hampa dan kosong,kini tak kutemukan lagi tatapan teduh dari sorot matamu itu,yang terasa menjagaku meski tanpa sebuah sentuhan. Anehnya… ku fikir kamu hanya jenuh dan bosan dengan hubungan ini,tanpa aku berburuk sangka, jika sebenarnya kamu melukaiku lebih dalam dari laki-laki yang pernah ku kenal sebelum kamu. Ku ketahui posisiku saat ini dari mulutmu sendiri, yang terlontar secara jelas dibalik telingaku ini,aku bukanlah siapa-siapa jika bukan orang kedua dalam hubungan ini,setelah ada wanita lain sebelum aku yang mengisi kesepian hatimu saat ini.

Bayangkan bagaimana butanya aku dengan pagi yang cerah ini? Bayangkan bagaimana sakitnya aku, ketika mendengar sang pangeran hati yang sering ku bangga-banggakan namanya di depan semua teman-temanku,ternyata tega mengkhianati hubungan yang telah ku jaga dan berusaha ku susun dengan rapi ini. Luka yang dulu masih belum kering,kini ditambah kamu yang membuat luka baru di hatiku,membuat sakit yang aku alami ini terasa lebih perfect.

Hingga akhirnya ku coba redam emosi ini sejenak,ku coba meluluhkan hati ini demi perasaanku padamu yang amat dalam , ku obati rasa sakit ini sendirian. Namun… untuk menahan sesuatu yang sepele aku masih belum mampu,ku biarkan air mata ini mengalir deras membasahi pipiku,dihadapanmu ku menangis lirih,hati yang menjerit kesakitan,menahan rasa kecewa dan menahan kata untuk pergi meninggalkan dirimu. Lihat aku! Yang masih mau memberikan kesempatan padamu,yang mau mengulang kembali kepercayaan yang aku miliki padamu,meski di balik mataku,kamu yang tengah sadar membuatku sebagai pelampiasannya saja.

Aku mencoba untuk bangun kembali hubungan ini, bersama seorang laki-laki yang telah mengkhianati kepercayaanku padanya. Dahsyatnya mantra cinta yang pernah dirinya lontarkan padaku, membuatku tak pernah bisa benci padanya,meski luka yang tengah aku rasakan ini semakin dalam karenanya. Perlahan… hubungan kami kembali membaik,dia mengungkapkan permohonan maafnya dengan menjadikan aku sebagai kekasih seutuhnya yang hanya dia miliki.

Namun perasaan takut itu masih seringkali menghantui batinku saat ini,wajar jika ada perasaan trauma karena rasa sakit yang pernah aku alami gara-gara dirinya. Setiap kali kami bertemu,aku tak pernah mencoba untuk mengawali sebuah pembicaraan sebelum dirinya yang terlebih dahulu untuk bertanya padaku. Kejadian memilukan itu membuat hubungan kami seringkali membisu ketika bertemu,kini terasa lebih hampa dan tak seindah seperti awal aku menjalin hubungan dengannya. Meski berbincang dalam pesan singkatpun,namun balasanku selalu lebih simple dibandingan dirinya,aku bukan bermaksud membuat hubungan ini terasa kaku dan membeku,namun aku butuh waktu untuk kembali meredakan rasa kecewa dan sakit hatiku ini yang tak bisa di pertanggung jawabkan olehnya. Bayangan itu yang seringkali membuatku gila,menangis secara tiba-tiba… dan rasanya ego ini memaksaku untuk menghindar darimu,kejadian itu membuatku malah seringkali berfikiran buruk padamu akhir-akhir ini. Kesalahan yang telah dirinya perbuat,tak mungkin bisa dimaafkan secapat mungkin olehku…

Hatiku buakanlah terbuat dari baja,yang bisa tetap kokoh meski telah dihancurkan berulang-ulang kali,aku juga hanyalah wanita biasa yang hatinya mudah rapuh ketika sentuhan kasih berubah menjadi kata ingkar.

Setelah perasaanku kembali membaik,hatiku kembali tenang dan lega atas segala perhatian penuhnya padaku,tiba-tiba… aku kembali dikejutkan dengan perkataan jujurnya lagi padaku. Masih ada gadis lain yang lebih lama dari gadis sebelmnya,dia yang telah menggantung hubungannya,hingga sampai sekarang… laki-laki yang aku cintai ini rupanya masih menaruh rasa pada gadis tersebut,dia kembali meremukan hatiku yang baru saja di perbaiki dengan sikap palsunya. Aku kembali dipandang sebelah mata olehnya,kesempatan yang pernah dia minta padaku rupanya hanya omong kosong. Aku masih orang asing dimatanya,aku tak pernah mempunyai urutan pertama dihatinya,hadirnya aku masih di anggap sebagai bahan pelampiasannya saja. Hanya di manfaatkan untuk menjadi mata-mata si gadis yang masih dirinya cintai,dan ini terakhir kalinya aku ingin membalas pesan singkat dari laki-laki jatuh cintaku,siang tadi terakhir kalinya aku menerima telephone darinys,dengan sebuah perbincangan seru yang ironi.

“Aku menyesal teah mengenalnya.” Hati kecilku menggerutu kesal.

Kata maaf dan berharap di beri kesempatan kembali terlontar dari mulut dia,namun aku masih belum bisa membalas permintaannya,kali ini hatiku benar-benar di buat ragu,mungkin aku belum mampu menerima kehadirannya secara utuh,aku belum bisa percaya dengan perkataannya lagi.
Berkali-kali ku pertimbangkan permintaan maaf itu,namun respon perasaan yang kumiliki masih saja berkata ragu…
Aku masih ragu,meski aku masih mencintaimu. Aku masih ragu,karena tak semudah itu bisa ku maafkan orang yang telah bersalah dan membuat batinku terluka…

 

Leave a comment »

Menempuh Sebuah Percintaan Bersama Takdir II

Hati kecil ini kembali bergeming,ku merindu di tengah malam yang sepi,semuanya telah tertidur pulas termasuk kamu. Hubungan ini cukup menguras tangis dan kesedihan,aku hanya bisa merindu lewat suaramu yang setiap waktu menemaniku,di kala lelah,suka maupun duka. Ku tatap kembali foto yang terpampang hampa di dinding kamarku,sosok Pras tengah tersenyum manis memperhatikan kegalauanku malam ini. Dapatkah dirinya yang ku pajang bisa berubah menjadi wujud yang nyata? Yang bisa ku sentuh dengan tiga dimensi? Tangis ini membuatku sendu sendiri,membuatku gelisah dan tak bisa memejamkan kedua mata ini lagi. Aku kembali menacari tatapan teduh dari bulatan mata cokelat yang dirinya miliki,yang seringkali berhasil meredakan tangisku ini.

Salahkah jika aku terus berlari hingga sampai pada hati yang tengah ku genggam ini? Andai bisa aku terbang tinggi seperti burung-burung liar di angkasa,ingin rasanya ku kepakan sayap ini hingga sampai di depan jendela rumahmu,sepertinya aku bisa semudah mungkin membalas rindu kita berdua,ku dapat temui kamu kapanpun. Cinta tak harus di ukur oleh waktu dan jarak,hanya perlu mengerti dan saling memiliki itu akan terasa lebih indah. Namun… cinta yang seringkali di anggap indah,tak akan selamanya berjalan manis,karena cinta merupakan sepenggal kisah yang hadir dalam kehidupan setiap manusia,sama-sama merasakan manis,pahit dan asam sebuah hubungan itu berjalan,sesuai dengan langkah kehidupan.

Jarak bukan berarti menjadi penghalang mimpiku untuk meraih apa yang aku harapkan,dengan jarak ini aku telah dibuat dewasa,menerima keterbatasan hubungan yang tengah aku jalani sekarang ini. Aku mengerti dengan sebuah kata sabar dan tegar,aku sering bermimpi dan berandai untuk dapat meraih sebuah harapan. Menjadi kami bukanlah hal yang mudah,harus saling percaya meski dari jarak yang jauh,meski kalimat janji yang di ucapkan terkadang masih belum mampu membuat hati terasa tenang dan percaya.

“aku terbangun lagi,tiba-tiba kamu hadir dalam mimpiku,membuat aku teringat akan sosokmu. Maaf ya jika malam-malam seperti ini aku telah membangunkan tidurmu.”

Tak ada yang bisa ku lakukan lagi selain merampas handphoneku dengan segera,mengungkapkan jeritan hati yang terus memanggil namamu. Aku rindu,dan rindu itu sering kali membuatku bersajak tentangmu dalam hati ini. Tahukah kamu? diseluruh penjuru hati ini telah ku simpan namamu,ku tutupi setiap celah dalam hati ini bersama rinduku padamu. Kamu mampu hapus segala sakit hati yang dulunya pernah bernaung dalam hatiku,ingin rasanya aku berterimakasih padamu dengan caraku,dapat menemuimu secara langsung dengan dekapanku sambil membisikkan kata-kata indah di balik telingamu. Dalam do’aku… kamulah yang selalu ku perbincangkan bersama Tuhan,bersama bulir-bulir air mata dan rasa rindu yang seringkali bersemayam dalam hati ini.

“kamu terbangun lagi ya? Lebih baik sekarang kamu cepat tidur lagi saja ya,besok kan kamu harus bangun pagi untuk berangkat ke sekolah.”

Tiba-tiba hadphoneku yang bernada senyap menyala. Fikirku yang pendek tak menyangka jika itu adalah Pras yang membalas pesan singkat dariku,ku fikir hanya pesan dari operator atau orang iseng saja,namun nyatanya Pras yang membuat handphoneku kembali ramai. Entah mengapa,aku sendiripun sering aneh dengan tingkah lakuknya,dia selalu ada meski aku tak pernah memintanya,bagiku dia bak seorang malaikat pelindung hidupku yang tak pernah tidur,dia ada ketika semua orang telah tertidur pulas,dan dia seringkali menemani kerinduanku ini meski sudah larut malam. Itulah yang membuat dirinya istimewa dimataku,dia mengaku tak pernah tidur demi menunggu sebuah balasan pesan singkat dariku,dia rela tak beranjak dari kamarnya hanya untuk menemaniku dalam telephone,kita habiskan waktu seharian dengan perbincangan manis di balik telephone. Tak pernah sebelumnya ku dapatkan laki-laki sebaik dirinya,meski dengan jarak yang jauh,namun atas segala keunikan dalam hubungan yang kami berdua jalani ini,membuat dirinya selalu terasa dekat denganku,dan aku… merasa tak pernah kesepian meskipun berkali-kali menghabiskan liburan dan malam minggu sendirian. Tahukah kamu? Berharganya dirimu dalam hidupku sesungguhnya tak pernah bisa aku ungkapkan lewat sebuah kata-kata lisan.

Aku berusaha menghindar dari segala mimpi buruk yang terkadang menghantui hidupku,takdir yang akhirnya harus memisahkan kami berdua bersama tangis dengan hati yang sesungguhnya tak pernah berkata rela dan ikhlas. Aku benci dengan mimpi buruk itu,aku benci… meski hanya sebuah mimpi saja.

“kalau aku kembali tidur,kamu juga harus berjanji ya untuk tidur kembali,kamu jugakan harus bangun pagi besok,untuk berangkat ke sekolah pagi-pagi.” aku kembali membalas pesan singkat dari Pras,kekasih hati yang mampu membuatku menahan tangis haru, sambil tersenyum kecil di malam hari seperti ini.

“ia,aku janji akan kembali tidur. Kamu cepat tidur ya,ini sudah sangat malam,nanti kamu bangunnya kesiangan lho.”

“selamat tidur ya Pras sayang,terimakasih kamu telah menemani malamku meski hanya beberapa menit,kamu selalu ada untuk membalas respon rindu dan pesan singkat dariku. Kamu akan membuatku bermimpi indah malam ini,bye…”

“selamat tidur juga Anita sayang. Aku akan menjadi pemadam kebakaran yang selalu hadir 24jam untukmu. Selamat malam,bye…”

Akhirnya perbincangan kami lewat sebuah pesan singkat berakhir juga,semoga saja Pras benar-benar tidur nyenyak dan aku tak terbangun lagi,untuk mengirim sebuah pesan rindu padanya,hingga kembali membuatnya terbangun lagi karenaku. Aku sungguh merindukannya,meski beberapa menit yang lalu kami baru saja berbincang lewat sebuah SMS,namun nyatanya saat tidurpun dia masih sering muncul dalam mimpi,membuatku terbangun berkali-kali,hanya karena otakku terus memberi respon agar kedua mataku kembali terbuka lebar,untuk menatap fotonya di balik layar monitor handphoneku,kemudian… jatuhlah kembali air mata ini,membuat mataku tak pernah kering hingga pagi mulai datang,dan ayampun mulai berkokok.

 

Bulatan mentari pagi mulai menyambutku,deretan bunga di taman bermekaran dengan warna-warni cantik,menyapa pagi yang cerah ini dan aku yang masih meninggalkan sembab di mata. Ku tatap langit yang cerah dengan warna biru,bersama gumpalan awan pagi yang putih,burung-burung berterbangan sambil menyapa dengan siualannya,langkahku menyisir jalanan yang ku lalui. Dalam hati aku bergumam… 

Hai pagi,hai langit dan berawan cerah, yang berhasil menyambut pagi ini,pagi yang indah bersama kehangatan dari pancaran sang mentari. Di kota yang berbeda,ku harap Pras bisa menikmati pagi yang sama dengan pagi yang ku rasakan saat ini,bersama udara sejuk dan angin yang berhembus tenang. Pagi ini merupakan hari jadi kami yang telah menginjak tiga bulan,tak terasa sekali jika hubungan kami ini telah seumur jagung. Tuhan… ku titipkan salam rindu ini dan ucapan selamat padanya lewat sebuah senyuman yang telah berhasil langit potret,sampaikan padanya yang berada disana,perlihatkan jika di langit ada gumpalan awan yang berbentuk huruf “A” diringi dengan symbol hati. Tak perlu ucapan yang panjang lebar dan sebuah kado istimewa dengan barang-barang yang berharga,andai dengan hadirmu saja… itu lebih indah dari kado apapun meski berlapiskan emas 25karat. Kehadiranmu… layaknya kado yang paling berharga disetiap hari jadi kita, ketika menginjak bulan apapun itu. 

Andai saja ada seratus juta burung yang menjatuhkan sehelai sayapnya ke aspal jalanan,akan ku ambil satu persatu untuk ku rangkai menjadi sayap yang mampu menerbangkanku seperti mereka,hingga akhirnya aku sampai di depan tatapan matanya yang nyata. Akan aku ajak dia terbang tinggi,ku jelajahi setiap tempat terindah dibumi,dan kita mengukir sebuah kenangan manis bersama disana. Kamu sedang apa? apakah pagi ini kamu sudah sarapan? Kamu di antar siapa? Apakah kamu baik-baik saja disana? . Setiap pagi,selalu saja pertanyaan itu yang seringkali bergumam dalam hatiku,tanpa aku tahu jawabannya dengan sendiri,pasti saja aku bertanya padamu,dan kamu memberi tahunya.

“selamat hari jadi yang ke tiga bulan ya Anita sayang,semoga hubungan kita bisa terus langgeng dan terhindar dari berbagai masalah,mau itu masalah berat ataupun ringan. Ku harapkan hubungan kita bisa lebih baik kedepannya,amin…”

Dan aku kembali mebalas ucapan selamat dari Pras itu dengan tawa riang,sepanjang jalanan menuju sekolah senyumku terus terpapar jelas,raut wajah yang terlihat bahagia tergambar jelas pagi itu,sudah ku bilang,jika benda mati yang tengah aku genggam ini bisa membuatku tersenyum bahkan menangis. Balasan pesan yang lebih panjang lebar dengan semua symbol kasih sayang yang ku berikan padanya.

Ketikan tanganku ini, membuat langkah kakiku tak terasa hingga sampai di depan bangku yang biasa aku duduki,hingga akhirnya aku terduduk di kursi tersebut,membuat aku tak sadar dan bingung sendiri jika teman sebangkuku tengah memperhatikan diriku yang tengah bahagia dan tersenyum sedari tadi.

“kenapa Nit? Kayak yang seneng banget nih kelihatannya,cerita dong…” paksa Dwi teman sebangku-ku.

Aku hanya mengangguk ,dan sekarang aku yakin jika kini wajahku telah berubah menjadi merah karena menahan malu. Sedikitpun aku tak menggubris paksaan temanku itu untuk bercerita tentang hal yang telah membuat aku bahagia hari ini. Dari tas gendong kesayanganku yang berawarna biru dongker,aku mengeluarkan sebuah diary kecil dan sebuah pena,di halaman depan ku pajang surat cinta pertamaku dari Pras,yang dikirim lewat temanku juga,yang tinggal satu kota denganku,namun kami bertiga memang saling mengenal. Ku ceritakan kisah pagi ini yang terasa lebih special dan membuatku bahagia dari hari-hari yang lalu,dengan sebuah pena yang aku goreskan pada selembaran kertas dalam dairyku. 

Mungkin hubungan kita terpisah oleh jarak dan waktu,kita mempunyai sebuah hubungan yang berbeda dari orang kebanyakan,namun aku tak pernah berfikir jika kita benar-benar jauh,aku selalu menganggapmu ada disampingku, meski tak pernah bisa ku rasakan sentuhanmu. Di kota besar sana,ada banyak ribuan wanita yang memili fisik yang lebih sempurna dariku,mereka lebih cantik,dan dalam segi materi… mungkin aku tertinggal 360 derajat dengan mereka,mereka ada dan dapat kamu sentuh. Aku sadar diri yang memiliki keterbatasan untuk meraihmu secata tiga dimensi,namun hati ini… lebih peka dengan sebuah hayalanku yang dapat menyentuhmu secara nyata,sejauh apapun kamu,hatiku masih bisa meraihmu dengan mudah. Mungkin aku tak secantik,tak sekaya dan tak sepintar wanita-wanita di kota besar sana,namun perbolehkan aku untuk mencintaimu,biarkan hati ini yang menjawab segala kekurangan yang aku miliki. Aku yakin dengan kamu,yang hanya bisa menerawang sebuah perasaan wanita hanya dari hatinya saja,bukan karena fisik ataupun materi,bukan karena dia selalu ada secara nyata disampingmu atau bahkan tak pernah ada sama sekali disampingmu. Aku yakin dengan perasaanmu,bahwa sebuah jarak bukan berarti penghalang sebuah hubungan. 

Ketahuilah,aku selalu merindukanmu,dan aku tak pernah mengeluh dengan hubungan yang tengah kita jalani ini,aku tak pernah jenuh atau merasa bosan sedikitpun. Semoga Tuhan mengerti dengan bulir-bulir air mataku ini,jika dibalik tangisku selalu terselip rasa takut kehilangan,takut kehilangan dirimu,dan semoga Tuhan mengerti,jika tangis ini merupakan sebuah permohonanku,jika aku tak ingin kehilangan dirinya.

Tetaplah menjadi Pras yang dulu,yang selalu menemaniku dan ada ketika aku merindukanmu. Yang ada ketika aku terbangun di malam hari… Dan aku akan menjadi diriku yang selalu sibuk menceritakan kisah hidup kita. Menjadi aku yang selalu menangis karena takut kehilanganmu,menjadi Anita yang tak pernah bosan untuk mengirimkan sebuah puisi yang berawal dari satu kata yang kamu kirim padaku…

 

Leave a comment »

Menempuh Sebuah Percintaan Bersama Takdir

Rintik hujan menjadi teman rinduku atas perasaan ini padamu,ku lampiaskan rindu ini dengan mendengar suara lembutmu dari balik telephone, ku tatap dalam kedua bola matamu lewat sebuah foto yang tertera di balik layar handphoneku. Ku titipkan perasaan yang dalam ini lewat semilir angin yang berhembus mesra hingga ke depan jendela rumahmu,ku jaga kamu lewat sebuah do’a dan binar-binar air mata. Hadirmu menjadi sosok penolong bagi hidupku,namamu yang telah ku pahat rapi dalam hati ini,telah mampu menjaga perasaanku. Kamu adalah sosok nyata yang sering menyelinap hadir dalam mimpi dan batin ini,ku rasakan hadirmu dekat disampingku,tengah mendekapku dikala aku benar-benar merindukan sosok dirimu,tanpa kamu buat aku bahagia setiap waktu,namun aku bersumpah… hadirnya dirimu telah membuatku tenang.
Ku perhatikan satu persatu seluruh orang yang berada disekelilingku,berharap ada kamu yang terselip di balik kerumunan orang-orang tersebut,namun satu menit yang lalu kamu baru saja membalas pesan singkat dariku,bahwa kamu tengah sarapan pagi di rumah. Ya,dan aku telah gila mengharapkan dirimu hadir di antara mereka,kamu tak pernah tahu dimana kotaku berada,bahkan kamu asing dengan tempat tinggalku sekarang ini,dan akhirnya hati kecilku kembali berkata, “dia tak mungkin hadir disini,bersamaku,disampingku dan menatapku.”

Aku berhenti untuk mencari sosok bayangan yang kuharapkan dapat menjelma secara nyata dihadapanku,ku simpan rasa percayaku yang telah Tuhan anugerahkan dalam hati ini,jika takdir pasti akan mempertemukan kami dengan sebuah pertemuan yang manis. Meski terkurung di dalam sebuah lubang yang gelap dan berbeda,namun kami seringkali mencari sebuah celah dan bercak cahaya yang semoga saja terkubur di dalamnya,yang dapat menuntun langkah kami untuk menemukan seseorang yang kami anggap hanya sebuah siluet. Siluet yang menjelma menjadi aku dan dirinya.

Aku juga ingin menjadi mereka yang berada dalam fotomu,mereka yang tengah berforo bersama denganmu,berada dekat disampingmu,memegangmu secara nyata dan tiga dimensi bisa mereka rasakan sentuhannya. Andai aku berada dalam posisi mereka,kan ku basuh air mata ini bersama sebuah senyuman yang akan terus mengembang di hadapanmu setiap waktu,agar tak ada waktu yang kita sia-siakan untuk mengukir kesedihan. Cara kita menjalin sebuah hubungan sungguhlah berbeda dari mereka kebanyakan,kita rela setengah mati berkorban hanya untuk mendengarkan suara sang pujaan hati,demi seseorang yang selalu menemani lewat sebuah ponsel,benda mati yang terkadang bisa membuat kita bertingkah gila dan aneh,karena benda tersebut yang membuat kami tersenyum,menangis ataupun kesal. Tahukah kamu? Meski ku ketahui kamu hanya dibalik foto dan handphone,namun itu telah membuatku amat senang,apalagi jika kita harus dipertemukan satu sama lain dengan bertatap muka, mungkin hati ini bagaikan kembang api yang tengah siap untuk meluncur ke udara,dengan berbagai warna-warni indah yang menyemarakan langit malam.

Ku ceritakan sebuah kisah hidup yang menggambarkan percintaan seseorang yang jauh disana,bersama seonggok pulpen yang menggeoreskan banyak kisah di dalam diary kecilku. Ku ceritakan bagaimana sebuah hubungan ini bisa berawal,hingga aku mampu menikmati keadaan ini,dan aku… sukar untuk lepas dari tawaran perpisahanmu. Aku sendiri tak paham dengan perasaan ini,aku mencintaimu seperti lebih dari perasaanmu padaku,setiap detik api cinta ini selalu berkorbar dalam hati,tak sedikitpun padam meski di guyur derasnya air hujan. Aku yang selalu bersimpuh setiap malam pada sang ilahi,menangis lirih dan merintih,tolong sampaikan rindu ini lewat sebuah do’a,dan tangis air mata yang bercucuran tengah ku tampung di kedua telapak tanganku.

Ini rasa rindu yang amat dahsyat,lalu apakah semua kerinduan dan rasa cinta ini dapat di pertanggung jawabkan? Dengan cara apa? Pada siapa? Dan akan seperti apa?.
Ku coba menghubungi dirinya,menahan tangis yang terbendung di kelopak mataku.

“hallo?” dan setelah telephonenya telah di angkat,perasaan ini mulai membaik,suaranya yang bergeming ditelingaku,membuat tangis ini mereda seketika. Dan kamu… membuatku damai…

“hallo juga…” ku balas dengan nada riang,selalu saja harus munafik ketika tengah bersedih hati seperti ini.

Dan hanya sebatas kata itu,dia mampu meluluhkan hatiku yang beku dan kaku. Ini hanya sebatas haru,karena aku masih bisa mendengarkan suaranya meski hanya di balik telephone saja,namun itu sungguh luar biasa,telah  menjadi obat penawar piluku. Harus dari mana perbincangan ini dimulai? Aku tak ingin terlalu terburu-buru untuk mengungkapkan kesedihanku karena amat merindu,sebuah pertanyaan yang basi mulai ku lontarkan padanya.

“sedang apa pria tampan dengan bulatan cokelat dimatanya?” tanyaku sedikit merayu,aku ingin benar-benar tangis ini tak muncul lagi ketika kami berbincang,meski hati terus menggerutu rindu ingin bertemu.

“aku sedang memikirkanmu sedari tadi nona berbulu mata lentik.” Balasnya sama-sama merayu.

Perbincangan kami berdua tak pernah singkat,butuh waktu berjam-jam untuk kami saling melepas rindu meski hening tanpa sebuah pertanyaan atau penjelasan,namun hembusan nafasnya… menjadikan aku kembali tenang meski hanya di balik telephone.

Apa yang aku dapatkan sekarang ini,tak pernah ku mimpikan ataupun ku harapkan sebelumnya,meski dalam sebuah lamunan… namun tak pernah setinggi ini ku menghayal agar mendapatkan seorang laki-laki bak sang pangeran yang turun dari negeri kayangan,dengan wajah yang tampan dan sikap yang baik hati. Setulusnya ku berikan hati ini untuk pangeran hati yang tengah bertahta dalam hatiku ini,ku suguhkan rasa kagumku terhadap dirinya.
Kita memang tak pernah bertatap satu sama lain,namun disini… aku tengah memperhatikanmu lewat sebuah bintang yang tengah kamu perhatikan juga di balik jendela kamar rumahmu, kamu pernah berkata padaku “setiap bintang yang terang,itu adalah aku,dan disitulah aku ketika malam hari,ketika aku tengah memperhatikanmu dari ketinggian langit malam.” Dan aku tak pernah melewatkan malam yang cukup cerah untuk melihatmu,namun… bagaimana bisa aku melihatmu ketika langit mulai berawan? Dan bintangpun tak muncul di telan awan kelam,harus dengan cara apa aku memperhatikan dirinya? Agar setiap malamku,aku tak merasa kesepian…
“dengan rasa rindu yang kamu miliki dalam hati.”

Tengah malam tiba-tiba ku terbangun hanya karena rindu suaramu,atau sebuah balasan pesan singkat dari dirimu. Ku tatap kembali layar handphoneku,yang telah berkali-kali basah karena menetes satu demi satu air mataku,dalam foto itu… kamu masih terbangun dan senyum manis padaku, wajahmu seringkali berpendar dalam bola mataku,membuatku sulit untuk kembali tertidur, hanya sekedar untuk memejamkan sepasang bola mata yang telah lelah menangisimu.
Bagiku,kamu bak mentari yang selalu bersinar setiap saat dalam hidupku,memberikan jalan terang yang menuntun langkah kaki ini untuk terus menuju hatimu yang penuh kedamaian dan keteduhan. Atas jarak dan waktu yang menjadi penghalang pertemuan kami ketika benar-benar merindu,namun aku tak pernah mengeluh atau satu detikpun ku berfikir untuk menyudahi perasaan yang sudah terlanjur dalam ini,meski dalam satu helaan nafaspun aku tak pernah membayangkan untuk beranjak pergi dari hatimu. Kita bangun hubungan ini hingga menjadi sebuah jembatan penghubung antara rinduku dan rindumu,perahu ini telah berhenti berlayar,terasa nyaman telah sampai di dermaga persimpangan hatimu.

Aku dan kamu sama-sama siluet yang tengah berdiri di tepi pantai,menghadap sang mentari untuk menemukan sebuah harapan gemilang,lautan yang ku lihat begitu luas dan amat dalam,mungkin sedalam itu aku mencintaimu kekasih… dan di ujung sana,pepohonan rimbun yang tumbuh di perbukitan gunung yang menjulang tinggi hingga ke langit,dan mungkin setinggi itu aku mencintaimu kekasih…

Pras,seorang laki-laki yang kusebut sebagai kekasih. Dia membuat duniaku benar-benar hidup kembali,setelah aku sering berdiam diri di kamar untuk tertidur demi mengharapkan sebuah mimpi indah dari Tuhan. Dengan hadirnya dia,sulit mata ini untuk terpejam rapat demi tertidur pulas tanpa memikirkannya,dia memang jauh disana. Namun jarak antara kami berdua ini membuatku malah terasa lebih dekat dengan sosok Pras,kekasihku.

“perkataan kasarku ini hanya sebatas rasa kesal karena terlalu rindu padamu,sikapku yang acuh bukan berarti mencampakkan kamu,aku tak tahu harus bagaimana lagi untuk menyudahi pembicaraan ini di balik telephone,suaramu bagaikan hantu untukku. Kamu seringkali menghantui hidupku,ketika tidur,makan,mandi,belajar,dan apapun itu.” kata Pras yang terdengar menahan tangis.

“apakah hubungan ini terlalu istimewa untuk kita berdua? Sehingga banyak cobaan yang harus kita terima,ratusan butir beras yang ku tampung dalam satu genggaman tangan ini ku coba untuk menahanannya,agar tidak ada satupun butir bras yang jatuh meski banyak celah dalam jemari ini. Ku coba terima apapun sikapmu,meski itu membuatku sakit hati dan terluka,namun aku mencoba bertahan untuk terus membangun hubungan ini,menjadikan hubungan ini tetap utuh dan tak pernah perlahan rapuh.”

Pras hanya terdiam,ketika sang kekasih berkata lebih bijak untuk mengungkapkan perasaannya.
Bukankah Tuhan telah menciptakan manusia yang sempurna itu dengan sepuluh jari? Dan kamu tahu apa yang ingin ku ibaratkan dari ke-sepuluh jari ini? Mereka tak pernah ada apa-apanya dengan perasaanku padamu! Cinta,sayang,suka… sayangnya mereka tak pernah bisa ku ibaratkan dengan hitungan angka,meski harus bermilyar kali lipat sekalipun. Meski menjalani hubungan jarak jauh,namun tak pernah aku berfikir jika ada pria lain yang lebih hebat dari dirimu,dan pandangan ini… mampu ku lampiaskan pada wajah dirimu yang tertera di balik layar handphoneku.
Kamu memang jauh,namun inilah cinta yang lebih sempurna di bandingkan cinta-cinta lainnya yang pernah bermuara dalam hatiku,kamu memang jauh,namun rindu yang ku rasa ini lebih dahsyat dari cinta-cinta yang pernah aku alami sebelumnya,kamu memang jauh,namun perasaan yang ku miliki ini terasa lebih dalam padamu,dan kamu… sosok laki-laki yang paling indah dari laki-laki manapun yang pernah bernaung dalam hatiku.

Benarkah meski dalam hubungan jarak jauh ini,namun cinta masih bisa di iringi dengan kata mati? “Aku mencintaimu sampai mati!.

“Pras… aku tak pernah bosan dengan hubungan ini,meski kita terpisah oleh waktu dan jarak,meski kerinduan kita tak pernah bisa di pertanggung jawabkan dengan sebuah pertemuan dan sentuhan lembut. Biarkan aku menemani setiap harimu semampuku,meski hanya di balik telephone.”

“ceritakan segala keluh kesahmu pada Tuhan lewat do’a,setiap malam… mari kita memohon pada sang ilahi,agar kita bisa bertemu atas takdir-Nya.”

 

Bersambung…

Leave a comment »

AKU IKHLAS bersama air mata ini

Jika memang keberadaanku mengusik hidupmu,tinggalkan aku seperti dulu. Jika kamu belum puas menjadikanku bahan percobaan untuk menunggumu,lakukan hal yang sama padaku seperti dulu,jika air mata ini masi kurang dalam perkiraanmu,atau terlalu singkat bagimu penantianku untuk menunggumu,lakukanlah lagi hal yang bisa membuatmu puas. Puas membuatku menangis,cemburu tak bersuara ataupun menunggu dalam diam. Bagaimana kamu kembali bersama senyuman,mendorong sepeda motor malam hari hingga perempatan rumahmu,masi jelas ku ingat,jelas karena disitu ada aku. Rasa iba dan tak tega melihatmu mendorong sepeda motor sendirian dengan nafas yang terengah-engah,aku tahu kamu lelah,aku tahu beban itu sungguh berat,aku tahu kamu peduli… sehingga meminta maaf dan mengajakku ke rumahmu untuk memperkenalkanku pada ibumu. Malam hari kita masi menggunakan seragam,seragam sekolah dan seragam mahasisawa,malam itu kamu tak butuh minum atau makanan yang sudah melambai mengajakmu mencicipinya,entahlah… ketika kamu menggantikan motor dengan yang satunya lagi,tatapanmu tak focus melihat benda yang sedang kamu pegang,melirik ke belakang tanpa henti,melihatku dalam waktu seperdetik mungkin,mengkhawatirkan mukaku yang sudah terlihat letih dan kusam. Perjalanan kita begitu pelan,angin yang berhembus menelusup lewat dada dan paru-paruku,tapi kita menikmati ketenangan ini… masi ingin bertemu,masi ingin memelukmu seperti ini,menutupi dadamu dengan jemari-jemari kecil yang kumiliki. Ketika itu… rasanya kita perlu pindah rumah dengan jarak yang berdekatan,agar setiap saat kerinduan kita dapat terbalaskan.
Sampai di rumah…
lekas mengganti baju,membuka kerudung dan segera mencuci muka ini dengan air dingin yang menyegarkan.
Membereskan rambut yang sudah kusut sambil menatap cermin… aku berbicara sendiri sambil berseri-seri,ku pegang kedua pipiku dan mulai bercerita…
“Rio… seberapa dekat kita tadi? Sehingga tak ada jarak pemisah di antara kita,penggaris manapun tak ada yang bisa mengukur kedekatan kita tadi. Ingatkah kamu,caramu membersihkanku dengan handuk milikmu dari air hujan yang membasahi tubuhku,kita berteduh di bawah malam yang sedang menangis,menangis bahagia mungkin melihat kita bisa bersama kembali (masi terfokus,sambil tersenyum manis). Rio… kabari aku jika kamu sudah sampai rumah ya,tak sedikitpun aku marah karena hal tadi,itu pengalaman extremeku yang pertama kali,ketika harus membantumu mendorong motor. Rio… ” tiba-tiba pandangan fokusku seketika buyar,mendengar dering handphone berbunyi… itu tanda dering dari Rio. Ketika menerima pesan singkat darinya,yang pertama dia tanyakan adalah keadaanku (padahalkan aku baik-baik saja) ekspresiku sedikit aneh,memicingkan kedua mataku dan halis yang terangkat satu,kedua… dia meminta maaf hanya karena kejadian tadi (bukankah aku senang bisa berlama-lama denganmu) dan yang ketiga… “I LOVE YOU”. Sudah kuduga dia akan mengakhiri setiap kata-katanya dengan kalimat itu.
                Setelah beberapa lama aku menunggumu,menunggu hubungan kalian berdua berakhir… kamu datang bak malaikat penjaga,hadir merangkulku,memberikan kecupan termanis di pipi ini,memelukku dengan hangat,ku artikan kedua lenganmu adalah kedua sayap kehidupan untukku,menghidupkanku dari kedinginan dan terik mentari yang membakar tubuhku. Akhirnya terlontar juga balasan sayang dariku untukmu…
Kita melaluinya… hari demi hari berganti,masi terasa hangat dan mesra hubungan ini,masi terasa manis,sungguh indah. Tapi… mentari tak selamanya bersinar,dia bisa tenggelam dan kelam,rupanya hubungan kitapun tak selamanya bersinar,seperti terkurung dalam gedung tanpa pintu atau jendela,tanpa pentilasi udara,tanpa cahaya,tanpa siapapun hidup sendirian. Itu yang sering kamu lakukan padaku,membuat kesalahan yang berulang-ulang,senangkah melihatku tersungkur dalam lubang yang sama? Senang melihatku menangis karena jatuh dalam jebakan yang sama? Bukankah aku selalu baik-baik saja selama kamu bersikap tenang padaku? Sekuat tenaga aku menahan tangis ini,aku menyimpannya begitu dalam,aku menyisakan air mata ini untuk kelak menangis bahagia,tapi… kembalinya kamu dalam dekapku bukan untuk menampung kebahagiaan,kamu kembali menimbun rasa kecewa dalam diriku. Tau kah kamu??? luka dulu yang pernah kamu tinggalkan sebelumnya-pun masi membekas begitu kental,masi terasa perih,masi belum kering. Masi sempatkah kamu menyusun rencana untuk menambah luka batin bagiku,luka baru untukku? Ku mohon… telah terkuras habis tangis ini ketika menantimu,aku telah puas menangis karenamu. Menangis tanpa sebab,menangis cemburu yang tak bisa ku ungkapkan,menangis mencintaimu dalam diam.
                Dimana hadirmu ketika aku sakit? Dimana hadirmu ketika aku membutuhkan pundak seseorang untukku berbaring? Dimana hadirmu ketika merindukanmu? Aku sakit… karena kamulah yang membuatku sakit!!! Sakit segalanya,banggakah kamu berhasil membuat seorang wanita jatuh sakit hanya karena memikirkanmu? Jika obatku adalah kamu,maukah kamu hadir untuk menengokku? Sekedar menyuapiku tiga atau lima sendok bubur,mengawasiku ketika meminum beberapa butir tablet dan satu buah obat sirup agar kamu merasa percaya,memaksaku untuk tidur dan tak usah memikirkan tugas sekolah,atau memaksaku untuk menyuruhmu agar selalu menengokku setiap hari.
Bagimu kekasih tak seberharga sahabat,tetapi bagiku keduanya sama-sama berharga. Ketika seorang kekasih menjadi top score di hatimu untuk saling bertukar hati dan perasaan,mencurahkan segala kerinduan dan kasih sayang,kemudian sahabat,ketika dia menjadi pelengkap dalam setiap sudut-sudut hatimu yang masi kosong,dia ada ketika kita membutuhkannya,dia merasakan suka duka kita, dan dia tidak akan pernah pergi ataupun putus.
Tetapi aku… entahlah,entahlah dimana kamu simpan namaku,adakah ruang khusus di hatimu untuk menaruh namaku,entahlah… atau mungkin sengaja mengukir namaku,sengaja menggalinya atau menggemboknya. Sulit,kamu adalah seseorang yang sulit ku tebak,tak bisa ku duga…
Tak bosankah mempermainkan perasaanku seperti ini? Hatiku bukan hewan yang bisa di adukan,di adukan dengan rasa cemburu,rasa sakit dan kecewa. Jika kamu bosan dengan keadaan seperti ini,hempaskan aku kembali,biarkan aku sendiri… jika kamu bahagia melihatku teluka,mengapa dulu kamu kembali?
Dalam hatiku,terisi ruang penuh dengan namamu… sampai saat ini kita telah bersama,rupanya aku masi ragu untuk mengenalmu,karena sifat tegamu padaku. Berapa kali kamu mencoba mengalah demi hubungan ini? Sejauh mana kamu mempertahankan hubungan ini? Aku masi mencoba berdiri kokoh,meski sakit ketika di paksakan. Kamu yang baik-baik saja tanpa harus mengalah demi mempertahankan hubungan ini,tapi tak pernah mecoba membantuku berdiri dan mengobati sakit ini. Lakukan lah jika ini membuatmu bahagia,lakukan ini jika aku adalah mainan hatimu yang tak bisa terpisahkan,aku ikhlas… aku ikhlas bersama air mata ini,aku menunggumu hingga kamu sadar,hingga kamu berhenti memainkan pisau untuk mengiris-ngiris luka baru di hatiku…
Aku ikhlas bersama air mata ini… jangan pernah merasakan sakit hati itu seperti apa? Kamu patut untuk bahagia,dan aku patut menadapatkan sejuta sakit untuk menggantikanmu… aku ikhlas bersama air mata ini… aku ikhlas…

Leave a comment »

Tanpa ragu

Bagaimana bisa aku melupakanmu,sedangkan sentuhan itu masi membekas begitu kental pada raga ini. Bagaimana bisa aku melupakanmu,sedangkan kenangan itu masi terasa manis untuk ku tinggalkan,aku terlalu menyayangimu,terlalu mencintaimu… sehingga tatapan matamu itu menimbulkan efek samping yang kecanduan… sorot matamu yang selalu berpendar dalam bola mataku menjadikan semakin sempit harapanku untuk melupakanmu. Kamu yang selalu menawarkan rasa rindu itu,berjanji akan melewatkan kebahagiaan itu bersama. Tapi kini kamu malah pergi,memberikan luka baru yang harus ku awetkan selama menunggumu. Kamu adalah nama yang pernah ku ukir dalam hati ini,kamu adalah sentuhan… sentuhan formalin yang terawetkan  secara otomatis,tak kan pernah lapuk di makan usia,tak kan pernah hancur walau terseret hujan deras sekalipun. Sosok pria yang pernah ku kenal dalam mimpi,kini menjadi sebuah kenyataan… hadir bersama seberkas cahaya putih dan kedua sayap lembut menempel di punggungmu ,yang kamu kepakkan di hadapanku. Kesedihan yang merenggut setengah dari kehidupanku tiba-tiba terhapuskan dengan kehadiranmu yang sempurna dan utuh. Kehadiranmu membuatku terlanjur menyayangimu,terlanjur mencintaimu,tak pernah ingin kehilanganmu.  Tapi ternyata hadirnya aku dalam hidupmu tak membuatmu nyaman,baru saja kita melangkah,melewatkan waktu dengan cinta,kemudian kamu menawarkanku untuk hidup bersama selamanya,kita akan merangkai sebuah masa depan,begitu giat dan semangatnya kita untuk melakukan hal itu bersama ketika itu. Tapi… semuanya hanyalah janji tanpa bukti,sebuah harapan yang menyisakan kenangan,bergantung pada kesedihan yang tak kunjung usai. Kamu tak pernah tahu,tak dapat bertanggung jawab dengan rasa ini,rasa yang memaksaku untuk terus diam,diam dan menantimu. Rasa sayang yang masi membekas inilah yang memaksaku untuk terus tegar,untuk terus kuat dan berdiri tegak melawan tangisku selama ini. Bahkan aku tak pernah menyesal dengan pertemuan ini,aku malah menikmati sakit yang terus menghujani hati ini,bahkan kini… aku telah mati rasa atas segalanya.
Terkadang… aku sering berfikir,mengapa saat kamu pergi Tuhan tak menyisakan rasa benci sedikit saja untukku,agar ketika aku telah lelah menantimu,aku bisa membencimu,aku rela melepasmu dan bisa melakukan hal yang sama seperti kamu yang membuang jauh kenangan ini. Cahaya putih dan sayap lembut dengan wajah tampan mempesona itu bak malaikat yang Tuhan anugerahkan untukku,tapi kini cahaya itu memudar,sayap lembutnya perlahan kusam dan wajah tampan yang mempesona itu tiba-tiba hilang tertutup cahaya yang memudar. Aku selalu bimbang dengan perpisahan ini,mengkhawatirkanmu tanpa perhatianku lagi,disaat kamu pergi… lalu siapa yang akan mengabarimu setiap saat,mengingatkanmu waktu makan siang,mengingatkanmu untuk selalu berhati-hati,mengingatkanmu untuk makan malam,untuk tertidur sebelum larut malam,membangunkanmu tidur… itu yang selalu ku bimbangkan,tapi kini aku bukanlah siapa-siapa… permintaan izinku untuk mengkhawatirkanmu lagi telah musnah.  Kamu tak pernah tahu,terlalu dalamnya perasanku ini padamu… hingga setiap saat aku selalu melintasi jalan yang melewati rumahmu ,entah mengapa tiba-tiba detak jantungku selalu berdegup begitu kencang,gerak refleks mata ini yang otomatis selalu saja penasaran melirik jalan itu,padahal setiap ku berharap ingin melihatmu,Tuhan tak pernah kunjung mempertemukan kita dalam suatu pertemuan yang kebetulan. Jalan itu terlalu ramai,tapi tak pernah dengan sengaja aku lihat kamu melintas di tengahnya,selalu saja harapan ini gagal,melihatmu di dalam kaca mobil tanpa sapa atau bertatap muka saja padahal itu lebih dari bahagia bagiku.

Hari demi hari selalu ku hitung,aku terlalu takut kehilanganmu terlalu jauh,terlalu takut jika perpisahan ini ternyata telah berjalan lama… aku terlalu takut jika perpisahan ini lebih panjang di bandingkan hubungan percintaan kita yang begitu singkat. Pernahkan kamu melewatkan hari dimana  seluruh isi hati dan fikiranmu hanya dengan namaku? Pernahkah kamu membuang waktumu hanya untuk melintasi jalan ke-rumahku,kemudian melirik ke setiap titik sudutnya,berharap kamu bertemu aku meski dari jauh? Rasanya semua itu mustahil… mustahil terjadi padamu yang telah memiliki pengganti baru, yang lebih baik di banding aku. Mungkin kamu lebih sering menukarkan waktumu dengannya…
Aku tak ingin hubungan ini berakhir tanpa bekas,hubungan yang berakhir bisu dan beku seperti ini. Sulit… sulit mendapatkan perhatianmu lagi,sulit mendapatkan kabar darimu… selama malam tak bermentari aku masi menunggumu dalam diam,aku masi menunggumu hingga tersuntuk-suntuk seperti ini,aku telah lupa dimana aku harus berbaring untuk beristirahat memejamkan mata ini,aku telah lupa bagaimana menyisikan sedikit waktuku untuk minum dan makan,aku telah lupa bagaimana caraku menikmati tontonan televise yang ku suka. Layar hanphoneku yang terpampang jelas fotomu tak pernah ku ubah dari awal perpisahan kita hingga saat ini,aku masi menatap layarnya bersama linangan air mata yang membuat penglihatanku sedikit buram. Malam…malam…malam…malam… aku selalu senang menikmati malam ini,dimana semua penghuni rumah disini telah tertidur pulas dengan tenang tanpa beban layaknya aku,malam itulah ku basuh seluruh sela-sela tubuhku dengan air wudhu,menikmati kesunyian malam ketika bersujud di atas sejadah yang basah berlinangkan air mata,hanya ada aku dan Tuhan yang tak tertidur ketika itu,mengangkatkan kedua tangan ini dan melantunkan setiap doa yang timbul air mata. Namamu yang selalu ku perbincangkan bersama Tuhan dalam do’a… Kamulah yang selalu menjadi bahan tangisku ketika bercerita…
Setiap tangisku ini adalah butir-butir kashi sayang yang terpendam,butir-butir cinta yang belum bisa ku kubur,butir-butir merindukan kembali sosokmu,butir-butir harapan agar kamu kembali. Banyak waktu yang sering ku luangkan dengan menanti harapan semu darimu,cinta yang telah lama memudar dan menyisakan perih,terkandung selamaku masi bisa bernafas dan membuka mata. Aku tak bisa mencintaimu lagi lewat sentuhan,kata-kata dan perasaan secara lisan… tapi,biarkanlah aku mencintaimu lewat tulisan… tulisan yang sengaja selalu ku rangkai setiap malam,menemani kesendirianku ketika menantikanmu. Aku menantimu tanpa jeda,setiap saat kenangan itu selalu merasuki batin dan fikiran ini,begitu betah berlabuh dalam hati yang hampa,tandus dan kacau seperti ini… Sampai kamu kembali,tangis ini tak akan pernah tergantikan oleh maaf… karena kamu terlalu jauh menguras hati ini,menguras bahagia menjadi duka,menguras cemburu yang amat dalam,menguras sakit yang menyesakkan dada…
Biarkan tulisan yang menjawab semua tangis kesedihan ini… biar kamu menangis merasakan bagaimana jadi aku dengan semua rasa dalam tulisan yang sedang kamu baca saat ini…

Leave a comment »

Merindukan Sosokmu

Bagaimana bisa aku melupakanmu,sedangkan sentuhan itu masi membekas begitu kental pada raga ini. Bagaimana bisa aku melupakanmu,sedangkan kenangan itu masi terasa manis untuk ku tinggalkan,aku terlalu menyayangimu,terlalu mencintaimu… sehingga tatapan matamu itu menimbulkan efek samping yang kecanduan… sorot matamu yang selalu berpendar dalam bola mataku menjadikan semakin sempit harapanku untuk melupakanmu. Kamu yang selalu menawarkan rasa rindu itu,berjanji akan melewatkan kebahagiaan itu bersama. Tapi kini kamu malah pergi,memberikan luka baru yang harus ku awetkan selama menunggumu. Kamu adalah nama yang pernah ku ukir dalam hati ini,kamu adalah sentuhan… sentuhan formalin yang terawetkan  secara otomatis,tak kan pernah lapuk di makan usia,tak kan pernah hancur walau terseret hujan deras sekalipun. Sosok pria yang pernah ku kenal dalam mimpi,kini menjadi sebuah kenyataan… hadir bersama seberkas cahaya putih dan kedua sayap lembut menempel di punggungmu ,yang kamu kepakkan di hadapanku. Kesedihan yang merenggut setengah dari kehidupanku tiba-tiba terhapuskan dengan kehadiranmu yang sempurna dan utuh. Kehadiranmu membuatku terlanjur menyayangimu,terlanjur mencintaimu,tak pernah ingin kehilanganmu.  Tapi ternyata hadirnya aku dalam hidupmu tak membuatmu nyaman,baru saja kita melangkah,melewatkan waktu dengan cinta,kemudian kamu menawarkanku untuk hidup bersama selamanya,kita akan merangkai sebuah masa depan,begitu giat dan semangatnya kita untuk melakukan hal itu bersama ketika itu. Tapi… semuanya hanyalah janji tanpa bukti,sebuah harapan yang menyisakan kenangan,bergantung pada kesedihan yang tak kunjung usai. Kamu tak pernah tahu,tak dapat bertanggung jawab dengan rasa ini,rasa yang memaksaku untuk terus diam,diam dan menantimu. Rasa sayang yang masi membekas inilah yang memaksaku untuk terus tegar,untuk terus kuat dan berdiri tegak melawan tangisku selama ini. Bahkan aku tak pernah menyesal dengan pertemuan ini,aku malah menikmati sakit yang terus menghujani hati ini,bahkan kini… aku telah mati rasa atas segalanya.
Terkadang… aku sering berfikir,mengapa saat kamu pergi Tuhan tak menyisakan rasa benci sedikit saja untukku,agar ketika aku telah lelah menantimu,aku bisa membencimu,aku rela melepasmu dan bisa melakukan hal yang sama seperti kamu yang membuang jauh kenangan ini. Cahaya putih dan sayap lembut dengan wajah tampan mempesona itu bak malaikat yang Tuhan anugerahkan untukku,tapi kini cahaya itu memudar,sayap lembutnya perlahan kusam dan wajah tampan yang mempesona itu tiba-tiba hilang tertutup cahaya yang memudar. Aku selalu bimbang dengan perpisahan ini,mengkhawatirkanmu tanpa perhatianku lagi,disaat kamu pergi… lalu siapa yang akan mengabarimu setiap saat,mengingatkanmu waktu makan siang,mengingatkanmu untuk selalu berhati-hati,mengingatkanmu untuk makan malam,untuk tertidur sebelum larut malam,membangunkanmu tidur… itu yang selalu ku bimbangkan,tapi kini aku bukanlah siapa-siapa… permintaan izinku untuk mengkhawatirkanmu lagi telah musnah.  Kamu tak pernah tahu,terlalu dalamnya perasanku ini padamu… hingga setiap saat aku selalu melintasi jalan yang melewati rumahmu ,entah mengapa tiba-tiba detak jantungku selalu berdegup begitu kencang,gerak refleks mata ini yang otomatis selalu saja penasaran melirik jalan itu,padahal setiap ku berharap ingin melihatmu,Tuhan tak pernah kunjung mempertemukan kita dalam suatu pertemuan yang kebetulan. Jalan itu terlalu ramai,tapi tak pernah dengan sengaja aku lihat kamu melintas di tengahnya,selalu saja harapan ini gagal,melihatmu di dalam kaca mobil tanpa sapa atau bertatap muka saja padahal itu lebih dari bahagia bagiku.

Hari demi hari selalu ku hitung,aku terlalu takut kehilanganmu terlalu jauh,terlalu takut jika perpisahan ini ternyata telah berjalan lama… aku terlalu takut jika perpisahan ini lebih panjang di bandingkan hubungan percintaan kita yang begitu singkat. Pernahkan kamu melewatkan hari dimana  seluruh isi hati dan fikiranmu hanya dengan namaku? Pernahkah kamu membuang waktumu hanya untuk melintasi jalan ke-rumahku,kemudian melirik ke setiap titik sudutnya,berharap kamu bertemu aku meski dari jauh? Rasanya semua itu mustahil… mustahil terjadi padamu yang telah memiliki pengganti baru, yang lebih baik di banding aku. Mungkin kamu lebih sering menukarkan waktumu dengannya…
Aku tak ingin hubungan ini berakhir tanpa bekas,hubungan yang berakhir bisu dan beku seperti ini. Sulit… sulit mendapatkan perhatianmu lagi,sulit mendapatkan kabar darimu… selama malam tak bermentari aku masi menunggumu dalam diam,aku masi menunggumu hingga suntuk seperti ini,aku telah lupa dimana aku harus berbaring untuk beristirahat memejamkan mata ini,aku telah lupa bagaimana menyisikan sedikit waktuku untuk minum dan makan,aku telah lupa bagaimana caraku menikmati tontonan televise yang ku suka. Layar hanphoneku yang terpampang jelas fotomu tak pernah ku ubah dari awal perpisahan kita hingga saat ini,aku masi menatap layarnya bersama linangan air mata yang membuat penglihatanku sedikit buram. Malam…malam…malam…malam… aku selalu senang menikmati malam ini,dimana semua penghuni rumah disini telah tertidur pulas dengan tenang tanpa beban layaknya aku,malam itulah ku basuh seluruh sela-sela tubuhku dengan air wudhu,menikmati kesunyian malam ketika bersujud di atas sejadah yang basah berlinangkan air mata,hanya ada aku dan Tuhan yang tak tertidur ketika itu,mengangkatkan kedua tangan ini dan melantunkan setiap doa yang timbul air mata. Namamu yang selalu ku perbincangkan bersama Tuhan dalam do’a… Kamulah yang selalu menjadi bahan tangisku ketika bercerita…
Setiap tangisku ini adalah butir-butir kashi sayang yang terpendam,butir-butir cinta yang belum bisa ku kubur,butir-butir merindukan kembali sosokmu,butir-butir harapan agar kamu kembali. Banyak waktu yang sering ku luangkan dengan menanti harapan semu darimu,cinta yang telah lama memudar dan menyisakan perih,terkandung selamaku masi bisa bernafas dan membuka mata. Aku tak bisa mencintaimu lagi lewat sentuhan,kata-kata dan perasaan secara lisan… tapi,biarkanlah aku mencintaimu lewat tulisan… tulisan yang sengaja selalu ku rangkai setiap malam,menemani kesendirianku ketika menantikanmu. Aku menantimu tanpa jeda,setiap saat kenangan itu selalu merasuki batin dan fikiran ini,begitu betah berlabuh dalam hati yang hampa,tandus dan kacau seperti ini… Sampai kamu kembali,tangis ini tak akan pernah tergantikan oleh maaf… karena kamu terlalu jauh menguras hati ini,menguras bahagia menjadi duka,menguras cemburu yang amat dalam,menguras sakit yang menyesakkan dada…
Biarkan tulisan yang menjawab semua tangis kesedihan ini… biar kamu menangis merasakan bagaimana jadi aku dengan semua rasa dalam tulisan yang sedang kamu baca saat ini…

Leave a comment »